• Sel. Nov 29th, 2022
PM baru Malaysia Anwar Ibrahim dikenal sebagai tokoh reformasi yang kerap menggaungkan politik keterbukaan dan kemajemukan.

Jakarta, CNN Indonesia

Anwar Ibrahim akhirnya ditunjuk Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah menjadi Perdana Menteri baru, hari ini, Kamis (24/11).

Pemimpin koalisi Pakatan Harapan tersebut selama ini dikenal sebagai orang yang reformis. Ia kerap membakar semangat pendukungnya untuk turun ke jalan melawan koalisi penguasa, Barisan Nasional, usai dipecat dari posisi wakil perdana menteri.

Ia juga memimpin pembentukan partai multi etnis-ras, Partai Keadilan Nasional, yang kemudian bergabung dengan Parti Rakyat Malaysia pada Agustus 2003 dan membentuk Parti Keadilan Rakyat (PKR).

Anwar juga dikenal sebagai tokoh plural. Ia kerap menyerukan masyarakat agar hidup dengan menghormati orang-orang yang berbeda, baik itu keyakinan maupun cara hidup.

Salah satu sikap keterbukaanya ditunjukkan lewat bergabungnya partai minoritas, Partai Tindakan Demokratik, yang merupakan partai sekuler dengan basis massa kaum urban dan non-Muslim.

[Gambas:Video CNN]

Dengan segala prinsip tersebut, bagaimana sebetulnya ideologi politik Anwar Ibrahim?

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Sultan Zainal Abidin di Malaysia, Suyatno Ladiqi, mengatakan Anwar Ibrahim memiliki pandangan politik yang mengutamakan prinsip “kemajemukan”.

Menurut Suyatno, politikus yang baru pertama kali menjabat perdana menteri itu memiliki warna politik yang senada dengan semboyan reformasinya selama ini. Kekuatan politiknya ditopang oleh kemajemukan komponen pendukung dari segi etnis maupun religi.

“Bagi Anwar, pandangan politik yang menerima kemajemukan bangsa yang tinggal di Tanah Melayu menjadi isu utama perpaduan,” kata Suyatno kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/11).

Meski menjunjung keberagaman di tengah negara yang cukup konservatif, Suyatno menilai Anwar “masih menghormati lembaga Raja-raja dan Islam sebagai agama resmi yang memang menjadi pilar negara Malaysia.”

Menurut dia, cara berpolitik Anwar memang kerap menyebabkan sang perdana menteri menjadi sasaran empuk stigma liberal dan pro-LGBT.

Meski begitu, politik reformasinya tersebut justru menjadi buah kemenangan untuk 26 tahun karier politik Anwar.

“Dalam pandangan saya ketokohan Anwar akan mendominasi perpolitikan Malaysia. Mengingat tiadanya tokoh sekaliber Anwar di Malaysia sekarang ini,” ucapnya.

Selama menjabat sebagai perdana menteri ke depan, Suyatno menilai Anwar bakal konsisten dengan perjuangan-perjuangan reformasinya yang sudah ia dengungkan sejauh ini. Sebab kekuatan Anwar pada hakikatnya berasal dari pendukungnya yang beragam, yakni etnis China, Melayu, dan India.

“Juga kelompok non-Islam (seperti) Cina, India, dan Sarawak menjadi kunci kemenangannya,” ujar dia.

Anwar Ibrahim jadi PM Malaysia bisa menutup pamor koalisi oposisi, baca di halaman berikutnya…



Koalisi Oposisi Bisa Kalah Pamor


BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Source link